Masih dalam suasana Piala Dunia Qatar 2022. “Key Player” atau pemain andalan setiap pemain timnas memberikan peran signifikan untuk mengangkat performa timnya.

Sebut saja Lionel Messi (Argentina), Cristian Ronaldo (Portugal), Lewansowski (Polandia) hingga Kylian Mbappe (Prancis). Mereka adalah pemain top dunia yang berperan menjalankan fungsinya sebagai pemain sepak bola.

Begitu juga dengan Indonesia, pada tahun 2045 Indonesia akan memasuki umur 100 tahun sejak memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Pada saat yang sama juga Indonesia mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia produktif lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif.

Artinya saat menuju Indonesia Emas 2045, peran penting dimasa itu adalah Mahasiswa! Mengapa? Karena mahasiswa lah yang pada 2045 nanti akan mengisi pos-pos di pemerintahan, politik, bisnis dan berbagai sektor lainnya.

Mahasiswa saat ini lah yang akan ikut berperan menjalankan fungsinnya sebagai kaum intelektual untuk Indonesia lebih baik dimasa yang akan datang.

Hal itu diungkapkan Ketua DPD PAN Kota Bandung, M Rasyid Rajasa saat menjadi narasumber Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Peran Mahasiswa Islam Dalam Kehidupan Bernegara Demi Terwujudnya Indonesia Emas” di UIN SGD Bandung, Senin (5/12/2022).

Menurut Rasyid, ada beberapa modal yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan Indonesia Emas di 2045, diantaranya dalam rentang 2020-2045 sekitar 70 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif (15-64 tahun) ditandai dengan jumlah tanggungan penduduk usia non produktif lebih sedikit dan penduduk yang bisa bekerja sangat banyak.

 

“Yang perlu dipersiapkan adalah kualitas penduduk. Lapangan kerja, program keluarga berencana dan perempuan masuk pasar kerja sampai melahirkan generasi masa depan emas di 2045 yang dimana SDM-nya produktif dan inovatif dan berperadaban unggul,” kata Rasyid.

Rasyid menyebut, Indonesia Emas 2045 saat ini menjadi program pemerintah dan beberapa kali disampaikan oleh Presiden Jokowi. Salah satunya Momentum Indonesia menjadi tuan rumah dari presidensi G20, sekaligus langkah awal dari proses transformasi digital ekonomi Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya. Ekonomi Malaysia diperkirakan tumbuh 4,4%, Thailand 3,7%, Singapura 2,3%, dan Filipina 5%. Hanya Vietnam dan Kamboja yang diperkirakan tumbuh lebih tinggi masing-masing mencapai 6,2%,” terangnya.

Kata Rasyid, dengan semua indikator tersebut maka Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan ancaman resesi, karena memiliki domestik market yang kuat. Kewaspadaan pada ekspor, dimana harga komoditas yang sempat melambung tahun ini, tampaknya akan menurun, seiring pelambatan permintaan di pasar global.

“Alhamdulillah, pada case Indonesia, Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 (tahun resesi global) berada di kisaran 4,5% – 5,3%, dan akan terus meningkat menjadi 4,7% – 5,5% pada 2024. Bahkan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) diprakirakan menurun dan kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024, dengan inflasi inti akan kembali lebih awal pada paruh pertama 2023,” paparnya.

Akan tetapi, kata Rasyid, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut akan lebih kuat dimasa depan jika ditopang dengan kualitas SDM yang unggul, apalagi peran mahasiswa Islam menyongsong menuju Indonesia Emas 2045.

Rasyid menyebut, mahasiswa merupakan “elit” sosial sebagai kelas menengah. Kelas ini dalam sejarahnya selalu menjadi pionir perubahan

“Dulu pemuda menjadi ujung tombak dalam revolusi fisik melawan penjajah. Lalu juga menjadi pemain penting dalam reformasi. Kini setelah demokrasi bersemi tugas yang tak kalah berat menanti mahasiswa, yaitu menjadi Game Changer di komunitas dan masyarakat Khususnya memberi dampak positif bagi masyarakat dalam ekonomi dan kesejahteraan,” paparnya.

Rasyid juga beberkan peluang yang bisa dilakukan mahasiswa/ anak muda di tengah situasi menantang saat ini. Pertama, mengasah jiwa kemandirian, dimana anak muda tidak tergantung pada siapa pun, bahkan bisa mengcreate suatu produk/ jasa dan bisa membuka lapangan kerja.

“Tren global dan nasional juga mendukung gejala itu, dimana Gen-Y (Milenial) dan Gen-Z tidak lagi menjadikan posisi “Pekerja” sebagai tujuan. Mereka justru banyak yang berani melakukan bisnis dari skala mikro, dan tidak takut mencoba hal baru (Entrepreneurship),” paparnya.

Jiwa kemandirian itu juga sudah Rasyid lakukan. Ia bercerita ketika lulus kuliah memutuskan untuk berwirausaha yakni budidaya ikan lele di Bekasi karena ia membaca peluang pasarnya sangat besar.

Lihat saja berapa banyak warung/ kedai yang menjajakan ikan lele sebagai menu andalan. Misalnya “Warung Tenda Lamongan” yang tersebar di seluruh Jakarta. Juga Bandung. Belum lagi kedai dan warung lainnya.

“Saya tidak memungkiri bahwa dengan posisi saya saat itu, tidak mengalami kesulitan dalam permodalan. Tapi dalam banyak kasus yang dialami teman saya, dimana mereka juga berangkat dari nol, namun bisa sukses. Kuncinya bukan di modal, namun visi bisnis kita dan semangat entrepreneurship,” ujarnya.

Dengan visi dan semangat entrepreneurship tersebut sebagai pengusaha budidaya ikan lele, Rasyid turut membantu operasional perusahaan keluarga. Menurutnya, ini bagian dari tanggung jawab untuk melanjutkan dan membesarkan bisnis yang sudah dirintis orang tua

Tak sampai disitu, pada 2014, Rasyid sudah melihat potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) atau Renewable Energy. Sebab tren dunia mengarah kesana. Pada konteks itu, terdapat tantangan besar yang dihadapi. Dimana usaha yang dirintis ayahnya (Hatta Rajasa) di bidang pengeboran minyak dan usaha di sektor perminyakan, sedang memasuki sunset industry karena berkontribusi pada global warming yang tidak sejalan dengan konsep sustainable development.

“Dari situ saya bersama teman-teman mendirikan usaha Compressed Natural Gas (CNG), yang termasuk energi bersih. Awalnya CNG sangat sulit ditawarkan ke sektor industri, mengingat tidak mampu berkompetisi dengan batubara dan minyak diesel subsidi,” terangnya.

“Dua tahun pertama, bisa dikatakan usaha kami jatuh-bangun. Namun di saat yang sama, kami terus meyakinkan bahwa CNG merupakan bagian kotribusi (ikhtiar) kita untuk menyelamatkan Planet Bumi. TApi teman-teman semua, yakinlah dan tetap semangat untuk lebih baik demi masa depan,” terangnya.

Kata Rasyid, apa yang telah diamati dan pengalaman yang sudah dilalui bahwa telah terjadi perubahan cepat, dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang menimbulkan disrupsi dan berpengaruh pada dunia usaha.

“Disrupsi itu mengakibatkan pergeseran business model demikian cepat. (Contoh: belanja online, robotics),” imbuhnya.

Rasyid berpesan, tantangan wirausaha untuk anak muda pasti ada. Seperti lemah dalam membuat bisnis model, karena kurangnya jam terbang dan keterbatasan pengalaman. Belum adanya network, padahal semua pakar sepakat, salah satu kunci sukses bisnis, terletak pada sejauh mana jaringan yang ada dan masih langka-nya sumber pendanaan. Termasuk Venture capital dan seed capital.

“Bahkan dunia perbankan juga tidak milenial friendly, karena pengajuan dana selalu dengan syarat jaminan dan pengalaman. Padahal kita semua baru memulai usaha, belum memiliki kedua factor tersebut,” terangnya.

Sumber pemberitaan : Radar Bandung – Senin, 5 Desember 2023