Kang Rasyid Soroti Lahan Makam yang Makin Berkurang – Keterbatasan lahan nampaknya memang menjadi permasalahan bagi kota-kota besar saat ini, tidak terkecuali bagi Kota Bandung. Berbagai masalah, akibat kurangnya lahan kerap terjadi termasuk masalah pemakaman. Permasalahan pemakaman ini sebenarnya bukan hal baru bagi warga Bandung. Sejak tahun 2000an lahan pemakaman di Kota Bandung sudah masuk kedalam kategori kritis.

Keberadaan 13 Tempat Pemakaman Umum (TPU) nyatanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Babakan Ciparay contohnya, pihak pengurus pemakaman mengaku bahwa kapasitas lahan mereka sudah sangat penuh. Dimana, saat ini hanya tersisa 1% dari total 3,2 ha lahan di Babakan Ciparay. Secara umum dari 153.000 m2 lahan pemakaman yang ada di Kota Bandung, saat ini 130.000 m2 lahan sudah terisi. Artinya hanya tersisa 23.000 m2 lahan pemakaman, atau 2 persen dari total lahan pemakaman di Kota Bandung. Menurut UPT Pemakaman Kota Bandung setidaknya setiap tahunnya Kota Bandung memerlukan 6.000 lahan pemakaman.

Tingginya kebutuhan akan lahan ini, tidak diiringi dengan pertambahan lahan. Hal ini disebabkan oleh sulitnya Pemkot untuk menambah lahan pemakaman baru. Kondisi ini diperparah dengan mahalnya harga tanah di Kota Bandung dan keterbatasan anggaran. Untuk memenuhi kebutuhan akhirnya lahan makam di Kota Bandung digunakan secara berulang, dengan cara menumpuk satu jasad dengan jasad lainnya.

Kang Rasyid Soroti Lahan Makam yang Makin Berkurang

Menanggapi permasalahan krisis lahan makam yang terjadi di Kota Bandung. Kang Rasyid menyebut penambahan lahan baru adalah solusi mutlak dalam mengatasi permasalahan krisis lahan makam. Penambahan lahan makam untuk warga bandung, Menurut kang Rasyid bisa dilakukan dengan bersikap tegas kepada pengembang untuk menyerahkan lahan 20% kepada pemkot untuk dimanfaatkan.

“Perda kita mengatur hal ini. Dimana perusahaan atau pengembang menyerahkan lahan sebesar 20% kepada pemkot untuk kepentingan publik. Jika ini benar dan tegas diimplementasikan, saya pikir insyaallah permasalahan krisis lahan ini bisa teratasi.” ujar kang Rasyid.

Ketegasan dari pemerintah kota menurut kang Rasyid juga memegang peranan penting dalam  mengatasi permasalahan krisis lahan.

“Saya berharap pemerintah bisa secara tegas dan konsisten. Karena tanpa ketegasan dan konsistensi, akan sulit bagi kita mengatasi permasalahan lahan.” tuturnya.

Mengenai penggunaan metode tumpang makam, dimana satu liang lahat digunakan beberapa jenazah, kang Rasyid menyebut jika sebaiknya penerapan metode tersebut memperhatikan keputusan keluarga.

“Keputusan keluarga harus dipertimbangkan, jangan sampai tidak. penerapan metode ini harus memperhatikan berbagai aspek, terutama psikologis dan sosiologis.” pungkas kang Rasyid.

Di Kota Bandung terdapat kurang lebih 13 Tempat Pemakaman Umum (TPU). Yakni: Sirnaraga, Cibarunay, Pandu, Cikutra, Maleer, Gumuruh, Astana Anyar, Babakan Ciparay, Legok Cisereuh, Cikadut, Nagrog dan Rancacili.

BACA JUGA: Fakta Unik Dibalik Senam BLIF