Pengangguran di Cimahi Ranking Dua se-Jabar – Ditetapkan sebagai kota Otonom pada tahun 2001, Kota Cimahi terus berstransformasi menjadi kota penyangga paling penting bagi Ibu Kota Jawa Barat. Status kota dengan jumlah kecamatan paling sedikit di Jawa Barat, nyatanya tidak menghentikan Cimahi untuk bertransformasi menjadi kawasan industri tersibuk di Jawa Barat. Tak heran selain julukan cimahi sebagai “kota tentara”, Cimahi juga sekarang dijuluki sebagai “kota tekstil”. Julukan ini tidak lepas dari banyaknya pabrik yang berorientasi pada tekstil, utamanya di kawasan industri di Cibaligo dan Cimindi.

Tidak hanya tekstil, di kota yang menjadi rumah bagi 571.632 ribu warga ini juga berkembang dan menjamur berbagai jenis industri lainnya. seperti: industri kreatif, jasa, sandang, kulit dan lain-lain. Berkembangnya kawasan industri di Cimahi, sejatinya mempunyai dampak baik untuk warga Cimahi. Pertumbuhan industri tekstil nyatanya menstimulus pertumbuhan UMKM juga mendorong pertumbuhan industri di bidang fashion. Wajar saja jika Cimahi kini menjadi destinasi tujuan urbanisasi masyarakat dari berbagai daerah. Sektor Industri ini bahkan menyumbang 46,31 persen Produk domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Cimahi. Data dari BPS menyebut, PDRB Kota Cimahi tahun 2021 mencapai 34,25%.

Namun, terus tumbuhnya kawasan industri di Cimahi ternyata tidak selalu membawa dampak positif. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) misalnya, di tahun 2015 pernah mengkritisi semrawutnya penataan kawasan industri di Kota Cimahi. APINDO menilai jika kawasan industri di Cimahi tidak memiliki saluran air dan limbah yang baik. Hal ini juga disertai oleh kurangnya penataan sehingga industri di Cimahi cenderung tumbuh tak beraturan. Menurut data dari BPS, terdapat 428 perusahaan industri yang ada di Kota Cimahi. Dari jumlah tersebut perusahaan tekstil memiliki jumlah paling banyak 178 perusahaan. Jumlah ini disusul fashion (48), logam (34), logam dasar (34), makanan dan minuman (31).

Pengangguran di Cimahi Ranking Dua se-Jabar

Data BPS pada tahun 2022 menyebut bahwa jumlah pengangguran di Cimahi mencapai 10,77%. Jumlah ini menempatkan Cimahi di posisi kedua daerah dengan jumlah pengangguran tertinggi. Cimahi hanya berada di bawah Kota Bogor yang memiliki 0,01 persen lebih besar di banding Kota Cimahi. 428 perusahaan industri di Cimahi hanya menyerap 106.936 tenaga kerja. Jika dikomparasikan dengan tiga tahun kebelakang, tingkat pengangguran di Kota Cimahi sebenarnya berkurang setiap tahunnya. Menurut data BPS, tingkat pengangguran di Kota Cimahi pada tahun 2021 mencapai 13,03 persen. Lebih sedikit dibandingkan tahun 2020 dimana pengangguran di Kota Cimahi mencapai 13,30 persen.

Tidak adil nampaknya jika pengentasan terhadap pengangguran jika hanya dibebankan kepada pemerintah. Perlu niat dan upaya bersama dari seluruh stakeholders untuk mengentaskan permasalahan ini. Pertama, pemerintah dapat mengoptimalisasi dinas ketenagakerjaan untuk membuat berbagai pelatihan keterampilan. Disamping, pemerintah juga melakukan kerjasama dengan perusahaan untuk menerapkan kebijakan penyerapan tenaga kerja 100 persen dari daerah, hal ini tentunya akan membuat perusahaan banyak menyerap tenaga kerja.

Tentu saja tidak seluruh pengangguran dapat terserap, maka itu dari semangat dan keterampilan berwirausaha perlu dioptimalisasi. Pelatihan keterampilan saja mungkin nampak biasa saja, namun pelatihan ini bisa dibarengi dengan bisnis kompetisi yang dihadiahi dengan bantuan modal, tentu akan menarik minat masyarakat. Program ini tentunya tidak hanya dijalankan oleh pemerintah, namun melibatkan perusahaan sebagai venture capital dan masyarakat sebagai collaborator.

Baca Juga: Kang Rasyid: Kesejahtraan Tenaga Pendidik Masih Kurang