Potret Toleransi Beragama di Paris Van Java – Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman yang luar biasa baik dari suku, bahasa, budaya maupun agama. Sadar akan heterogenitas bangsa Indonesia dan potensi konflik yang ada di dalamnya para founding fathers Indonesia pun sepakat untuk menjadikan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan bangsa Indonesia. Penyematan “Bhineka Tunggal Ika”  sebagai semboyan juga sekaligus menjadi pernyataan jika meskipun Indonesia adalah negara yang majemuk namun tetap menjungjung tinggi persatuan.

Dalam perjalanannya selama 77 tahun sebagai bangsa, Kemajukan Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Kerap kali terjadi konflik yang yang mengancam kebhinnekaan Indonesia. Agama juga tidak terlepas dari konflik intoleransi. Imparsial, sebuah lembaga yang menyelidiki Hak Asasi Manusia menyebut sepanjang pada tahun 2022 terdapat 25 kasus intoleransi beragama. Mayoritasnya dari kasus tersebut adalah perusakan rumah ibadah. Laporan BBC News juga menyebut dalam sepuluh tahun terakhir terdapat 200 rumah ibadah yang disegel dan ditolak warga.

Berbeda dengan banyak kota besar lainnya di Indonesia yang mempunyai kasus intolerasi yang tinggi. Kota Bandung nyatanya mempunyai indeks toleransi yang tinggi. Sebuah jurnal ilmial yang dirilis oleh Universitas Padjajaran menilai kota Bandung sebagai kota yang memiliki toleransi yang tinggi. Berdasarkan penelitian jurnal ini, kota Bandung mendapatkan nilai 3,82 dari maksimal 5 dan termasuk kedalam kategori “Tinggi”. Predikat kota yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi ini tentunya patut disyukuri ditengah maraknya aksi intoleran di daerah lain.

Potret Toleransi Beragama di Paris Van Java

Masuknya kota berjuluk “Paris Van Java” sebagai kota yang memiliki tingkat toleransi tinggi bukannya tanpa tantangan. Sebagai ibukota Jawa Barat, kota Bandung tentu memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan heterogen. Menurut data BPS Kota Bandung tahun 2022, Kota Bandung memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.53 juta. Dari jumlah tersebut, 2,3 Juta penduduk kota Bandung adalah muslim. Meskipun mayoritas muslim, bukan berarti agama lain mendapatkan diskriminasi di Kota Bandung. Masih menurut BPS, Tempat peribadatan bagi penduduk kota yang non muslim di kota Bandung juga mengalami peningkatan.  Contohnya adalah meningkatan rumah peribadatan bagi umat katolik dari 49 di tahun 2021 menjadi 54 di tahun 2022.

Tingginya angka indeks toleransi kota Bandung juga tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pemerintah kota Bandung. Hingga artikel ini dirilis, tercatat ada lima kampung toleransi yang dibentuk. Dibentuknya kampung toleransi ini adalah sebagai upaya bersama dari masyarakat dan pemerintah untuk terus merawat kebegaman dan kebhinekaan di kota Bandung.

Mengaplikasikan toleransi dalam kehidupan kita tentunya akan berdampak positif bagi heterogenitas bangsa Indonesia. Menerapkan toleransi berarti juga kita membantu negara untuk menghindari konflik dan perpecahan baik individu maupun kelompok. Terdapat beberapa sikap yang bisa kita lakukan untuk bertoleransi dalam beragama. Seperti:

  • Saling menghormati dan menghargai antar penganut agama lain.
  • Tidak memaksakan agama kita kepada orang lain.
  • Tidak melakukan penghinaan/diskriminasi terhadap agama lain.
  • Tidak melakukan gangguan ketika penganut agama lain sedang melakukan ibadah.

 

BACA JUGA: Perilaku Korupsi Dalam Kehidupan yang Tidak Sadari