Harapan Menjadi Negara Maju Tapi Riset dan Inovasi Rendah- Narasi tentang potensi Indonesia  menjadi negara maju di dunia, mungkin sudah seringkali kita dengar. Narasi ini memang bukan pepesan kosong belaka, nyatanya Indonesia memang memiliki potensi itu. Jika melihat data demografi negara kita, Faktanya kita saat ini sedang menikmati apa yang disebut kita sebagai “bonus demografi”. Alhasil, penduduk Indonesia usia produktif lebih banyak dari penduduk yang usianya non produktif (lansia dan anak-anak).

Selanjutnya, di era Industri 4.0 dan Society 5.0 yang aktivitasnya didasarkan pada penggunaan teknologi, kita mempunyai potensi. Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) menyebut faktanya pasca pandemic covid-19 jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertumbuh. APJII menyebut saat ini terdapat 210 juta jiwa pengguna internet di Indonesia. Jumlah ini lebih banyak 35 juta jiwa jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemic.

Belum lagi jika melihat dari sumber daya alam yang dimiliki oleh negara kita. Trend ditinggalkannya energi fosil dan beralihnya masyarakat dunia ke energi baru terbarukan juga menjadi potensi yang dimiliki negara kita. Gebrakan tesla untuk memproduksi mobil listrik turut diikuti kompetitornya di bidang otomotif dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Tingginya permintaan mobil listrik akibat baiknya sambutan pasar berimbas pada tingginya permintaan nikel dan lithium. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia. Pada tahun 2021 Indonesia menghasilkan 1 juta metrik ton nikel dan berkontribusi pada 37% produksi nikel dunia. Belum lagi semangat pemerintah melalui slogan “Indonesia Emas 2045” membuat asa Indonesia sebagai negara maju akan menjadi kenyataan.

Harapan Menjadi Negara Maju Tapi Riset dan Inovasi Rendah

Sayangnya, harapan akan cepat berubahnya Indonesia menjadi negara maju perlu kembali dikalkulasi ulang. Penyebabnya adalah masih rendahnya angka riset dan inovasi di Indonesia. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebutkan bahwa faktanya indeks inovasi riset Indonesia sejak tahun 2016 terus merosot. Indonesia berada di peringkat 36 dunia pada tahun 2016 dan saat ini berada diperingkat 50. setali tiga uang Merosotnya level inovasi riset Indonesia juga terjadi di level ASEAN. Data dari theglobaleconomy.com menunjukan jika Indonesia hanya lebih baik dari Myanmar, Laos dan Kamboja.

Terdapat setidaknya tiga penyebab mengapa indeks inovasi riset di Indonesia terus menurun. Pertama kurangnya investasi. Data pengeluaran untuk riset dan pengembangan yang dirilis oleh UNESCO menunjukan bahwa investasi Indonesia terhadap inovasi dan riset hanya 0,02% dari PDB. jumlah ini jauh, jika kita komparasikan dengan negara besar lain di ASEAN. Singapura 1,26%, Malaysia 0,59%, Thailand 0,27%, Vietnam 0,21%. Kedua, Intervensi pemerintah kurang. Kurangnya kebijakan yang berpihak pada riset dan inovasi, Rendahnya perlindungan dan penegakan hukum terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan masih rendahnya kualitas literasi/pendidikan adalah beberapa masalah yang dihadapi Indonesia dalam riset dan inovasi, namun masalah ini tidak dapat terurai karena kurangnya intevensi dari pemerintah. Terakhir adalah masih rendahnya prioritas inovasi, hal ini disebabkan oleh pemerintah yang memfokuskan dirinya pada kebutuhan domestik. seperti pemerataan pembangunan, pemberantasan kemiskinan serta peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan. Selain itu pemerintah masih memiliki pola pikir jika inovasi dan riset adalah barang mahal dan beresiko gagal.

Solusi Meningkatkan Rendahnya Riset dan Inovasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa secara kualitas individu, negara kita tidak kekurangan sumber daya manusia, banyak sekali periset hebat yang sudah diakui dunia dari Indonesia. Kurangnya support pendanaan, intervensi pemerintah yang kurang terhadap inovasi dan riset serta rendahnya prioritas inovasi. menjadi tiga permasalahan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam meningkatkan riset dan inovasi di Indonesia. Dukungan pemerintah sangat penting untuk mensupport kemajuan inovasi dan riset di Indonesia. Dukungan ini juga bisa diaktualisasikan pada pembangunan infrastruktur pendukung riset seperti laboratorium dan juga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Riset dan Inovasi merupakan salah satu indikator maju atau tidaknya suatu bangsa.

Generasi muda juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan indeks riset dan inovasi di Indonesia. Platform digital harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan nilai ekonomi suatu bangsa. Akhirnya, diperlukan kolaborasi kolektif dari semua pihak agar inovasi bisa dirasakan dampaknya di semua sektor kehidupan manusia. Pemerintah juga perlu mengklasifikasikan ancaman terhadap bangsa baik internal maupun eksternal. Hal ini perlu dilakukan agar riset yang dilakukan dapat dilakukan secara terarah dan tidak dianggap “sia-sia”.

BACA JUGA: Kang Rasyid Nongkrong Bareng Cosplayer Robot Bandung