Meningkatnya Kecenderungan Individualisme pada Generasi Muda- Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi turut membawa perubahan pada karakter manusia itu sendiri utamanya gen-Z. Dominannya penggunaan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 membuat gen-Z menjadi pribadi yang lebih canggih dan pandai. Bagi generasi gen-Z, teknologi adalah “nafas”. Hal ini sekaligus menunjukan bagaimana peranan teknologi yang sangat lekat dalam kehidupannya.

Dilansir dari oxford-royale.com, Gen-Z adalah kelompok manusia yang lahir pada rentang tahun 1995 sampai 2010. Salah satu ciri dari Gen-Z ini adalah mahir menggunakan teknologi dan tidak asing terhadap media sosial. Dominannya peran teknologi dalam kehidupan manusia tentunya membawa dampak positif. apalagi bagi sektor industrial. Pesatnya perkembangan Internet of Things (IOT), Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) tentunya sangat memudahkan kehidupan manusia dalam bekerja. Berbicara mengenai kehidupan sosial, perkembangan kehidupan sosial juga tidak lepas dari peran teknologi. Menjamurnya berbagai aplikasi media sosial mempermudah manusia untuk saling terkoneksi satu sama lain.

Namun..

Apakah semakin pesatnya perkembangan teknologi saat ini, hanya membawa dampak positif bagi kehidupan manusia?. Nyatanya perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif terhadap manusia, khususnya dalam aspek sosial-masyarakat.

Meningkatnya Kecenderungan Individualisme pada Generasi Muda

Menurut Dr. Fahruddin Faiz seorang dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penggagas “Ngaji Filsafat dan penulis buku “Filosofi Cinta Kahlil Gibran”. Perkembangan teknologi utamanya sosial media turut mempengaruhi karakter dari manusia itu sendiri, utamanya generasi muda. Menurutnya generasi muda saat ini tidak canggih dalam bersosialisasi. Penyebabnya tak lain adalah terkuncinya generasi muda pada dunia medsosnya. Apa yang disampaikan Dr. Fahruddin Faiz nampaknya tidaklah berlebihan. Jika melihat laporan Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2022. 98,02% orang Indonesia menggunakan internet untuk mengakses sosial media.

Menurunnya kualitas bersosialisasi anak muda saat ini, juga turut di dorong oleh algoritma media sosial pada saat ini. Dimana apa yang muncul dalam beranda kita didasarkan pada sesuatu yang kita senangi. Ini yang selanjutnya berkembang kepada apa yang kita sebut dengan “polarisasi”. “Polarisasi” ini seringkali terjadi di Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya politik.

Terus menurunnya kualitas bersosialisasi anak muda memiliki dampak yang buruk, bagi perkembangan kita sebagai suatu bangsa. Pertama, generasi muda kesulitan berkomunikasi tidak hanya dengan sekitarnya namun juga dengan para pendahulunya (Sejarah). Kedua, berkurangnya kepekaan anak muda dalam berkomunikasi. Anak muda menjadi tidak sadar cara berkomunikasinya menyebabkan orang dapat tersinggung. Ketiga, adalah menjadi lebih egois. Kondisi dimana anak muda tidak memiliki kepekaan terhadap satu sama lain, dan berorientasi kepada kepentingan pribadi.

Tiga dampak ini, mengarah pada satu hal yakni kecenderungan anak muda menjadi Individualis.

Urban Environment Degradation

Jika generasi muda dibiarkan secara terus menerus menjadi pribadi yang individualis, tentunya hal ini akan sangat berbahaya. Individualisme merupakan awal dari apa yang disebut Bintarto dalam bukunya yang berjudul “Interaksi Desa Kota dan Permasalahannya” sebagai Urban Environment Degradation dalam aspek social-masyarakat (environmental degradation of sociental nature). Individualisme pada generasi muda akan membuat kesenjangan sosial dan konflik kepentingan horizontal antar masyarakat semakin tinggi. Ini tidak terlepas dari kepekaan antar masyarakat yang menurun.

Meningkatnya Kecenderungan Individualisme pada Generasi Muda

Oleh karena itu, kita seharusnya terus menjaga kepekaan sosial kita terhadap satu sama lain. Mengingat negara kita sejatinya adalah negara yang menjungjung tinggi nilai gotong royong. Kecenderungan anak muda bersifat individualis tentunya bertentangan dengan pancasila. Trend Individualisme menghambat musyawarah mufakat karena setiap orang mendahulukan kepentingannya masing-masing. Apalagi, Indonesia sedang fokus untuk mencapai generasi emas 2045. Hal ini tidak mungkin bisa digapai sendirian, perlu upaya kolektif agar hal ini dapat terwujud.

 

BACA JUGA: Sulitnya Memilah Informasi di Era “Post Truth”