Populernya Kembali Permainan “Latto-Latto”- Anak-anak Indonesia saat ini sedang mengalami demam “latto-latto”. Eitss demam yang dimaksud bukan demam sakit ya wargi. Melainkan demam permainan yang terdiri dari seutas tali dan sepasang bola yang dinamakan “latto-latto”. Permainan ini dahulu “booming” di tahun 1990an ini kini kembali populer dikalangan anak-anak maupun dewasa.

Istilah “latto-latto” berasal dari bahasa bugis yang berarti bunyi tabrakan dari dua bola kecil. Permainan ini sangat populer di makasar, bahkan terdapat turnamen untuk permainan ini. Selain di Makassar, permainan ini juga populer di daerah lainnya di Indonesia serta memiliki nama yang berbeda-beda. Seperti: Katto-Katto, Tek-Tek, Nok-Nok dan nama lainnya.

Demam “latto-latto” semakin luas akibat penyebaran berbagai konten “latto-latto” tersebar di sosial berbagai sosial media utamanya Tiktok. Konten yang ada tentunya membuat rasa penasaran anak-anak maupun dewasa semakin bertambah untuk memainkannya.

Di amerika permainan “latto-latto” ini mempunyai nama clackers. Permainan yang satu ini muncul di amerika pada tahun 60an dimana pada awal kemunculannya clackers terbuat dari logam atau plastik akrilik. Namun pada tahun 1973 ketika pemerintah melakukan intervensi terhadap mainan di amerika, clackers dilarang karena dianggap mempunyai bahaya mekanis.

Populernya Kembali Permainan “Latto-Latto”

Demam “latto-latto” yang melanda anak-anak Indonesia, rupanya membawa dampak positif bagi kaum emak-emam dan pedagang mainan. Bagi kaum emak-emak, kehadiran “latto-latto” membawa dampak positif karena dengan adanya “latto-latto” ketergantungan anak-anak terhadap gadget berkurang. Adanya “latto-latto” ini memang wajib di syukuri oleh kaum emak-emak.

Bagaimana tidak, angka ketergantungan internet pada anak-anak di Indonesia semakin tahun semakin tinggi. Hasil riset sebuah lembaga penelitian pada tahun 2020 misalnya menyebut 19,3% anak indonesia kecanduan internet. Dari presentase tersebut, 2.933 anak-anak mengalami peningkatan durasi online dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam perhari. yang berarti meningkat 59,7%. Wajar jika melalui “latto-latto” ini kita dapat berharap angka ketergantungan gadget anak Indonesia bisa berkurang.

Pedagang juga turut diuntungkan dengan kehadiran permainan yang satu ini. Banyaknya peminat terhadap permainan yang satu ini, membuat pedagang mainan mengalami kenaikan omzet penjualan yang signifikan. Menurut pedagang mainan, peningkatan penjualan “latto-latto” terjadi di satu bulan terakhir. Hal ini diakui oleh kang maman, salah satu pedagang mainan di pasar gedebage, kota Bandung.

“Peminat latto-latto ini banyak sekali, dalam satu satu bulan ini, bisa ribuan latto-latto yang terjual. Dalam sehari saja bisa 70 pasang latto-latto yang terjual.” ujarnya

Melihat kondisi penjualan yang terus meningkat, para pedagang berharap tren latto-latto tidak cepat menurun.

BACA JUGA: “Jangan Buru-Buru Nikah” Emang Ngapa Sih?