Nasib Cagar Budaya di Tengah Kuatnya Arus Modernisasi – Sudah merupakan rahasia umum, jika Bandung merupakan kota yang kaya dengan bangunan cagar budaya. Menurut Peraturan Daerah kota Bandung No. 7 Tahun 2018 Terdapat 1.770 Bangunan cagar budaya yang ada di kota Bandung.

Jika kita kembali menilik sejarah, tidaklah mengherankan apabila di kota Bandung mudah sekali untuk menemukan bangunan cagar budaya. Hal ini tidak terlepas dari keputusan Belanda untuk memindahkan ibu kota priangan dari Cianjur ke Bandung tahun 1864. Perubahan status Bandung ini, ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu.

Pada tahun 1906 status kota Bandung kembali meningkat dari ibu kota priangan menjadi Gemeente (Kota Praja). Perubahan kali ini diikuti oleh pembangunan infrastruktur, merubah Bandung dari hutan belantara menjadi kota dambaan penduduk Hindia Belanda. Sehingga pada tahun 1926 kota Bandung kembali meningkat statusnya menjadi Stadsgemeente. Status ini membuat Bandung diperbolehkan mengelola pemerintahannya secara mandiri.

Letaknya yang strategis dan nyaman, membuat penduduk Hindia Belanda meminta Bandung menjadi ibukota negara. Gagasan ini pun disetujui oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda kala itu, J.P van Limburg Stirum. Bandung terus berbenah, banyak infrastruktur yang dibangun. Nahas, pemindahan ini harus berhenti pada 1930 akibat depresi ekonomi pada saat itu.

Jepang yang mulai mendesak Belanda membuat pemindahan dipercepat. Kantor Gubernur Hindia Belanda dipindahkan ke Bandung pada maret 1942. Sayang baru beberapa hari menjadi ibu kota negara, kota Bandung harus jatuh ke tangan Jepang. Demikian pula Belanda yang harus menyerah di tangan Jepang melalui perjanjian Linggarjati 8 Maret 1942.

 

Nasib Cagar Budaya di Tengah Kuatnya Arus Modernisasi

 

Lantas, bagaimana nasib bangunan cagar budaya/heritage pasca kemerdekaan yang disertai oleh kuatnya gelombang modernisasi?

Dikutip dari AyoBandung.com. Sekertaris Bandung Heritage, Koko Komara menyebut bahwa bangunan heritage di kota Bandung sempat mengalami penurunan yang luar biasa.

“Masa Suram hilangnya bangunan tua di kota Bandung terjadi pada masa Wali Kota Ateng Wahyudi. dimana 40% bangunan tempo dulu lenyap.” ujarnya.

Arus kuat moderenisasi yang terjadi termasuk di bidang budaya, nyatanya mempengaruhi pengelolaan terhadap bangunan cagar budaya menjadi lebih baik. Pengaruh ini bisa kita lihat dari banyaknya bangunan cagar budaya yang dipugar dan difungsikan. Ini juga didorong oleh inisiatif pemerintah kota untuk menyediakan layanan sistem informasi mengenai bangunan cagar budaya di kota Bandung.

Bangunan cagar budaya di kota Bandung memiliki daya tariknya tersendiri. Arsitekturnya yang luar biasa dan nilai sejarah yang dimiliki. Membuat cagar budaya kota Bandung berharga dan wajib dilestarikan. Cantiknya cagar budaya kota Bandung membuat wisatawan lokal dan mancanegara tertarik untuk berkunjung ke kota kembang.

Akan tetapi, pengelolaan bangunan cagar budaya di kota Bandung masih menemui sejumlah kendala dilematis. Tidak semua bangunan cagar budaya dikelola oleh pemerintah kota, ada juga yang dimiliki oleh masyarakat. Kendala pertama yang dialami adalah adanya konflik pemanfaatan bangunan cagar budaya. Konflik ini biasanya terjadi untuk bangunan cagar budaya yang merupakan living monument.

Kendala kedua adalah masih kurangnya perhatian terhadap bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Sehingga banyak sekali bangunan cagar budaya yang rusak namun tak kunjung diperbaiki. Penyebab hal ini bisa terjadi adalah kondisi dari masyarakat itu sendiri, yang mendiami bangunan cagar budaya. Pelestarian cagar budaya belum sejalan dengan dampak terhadap masyarakat yang mendiami bangunan heritage.

Terakhir, wisata edukasi belum dikedepankan dalam pemanfaatan dan pelestarian bangunan cagar budaya. Informasi mengenai sejarah bangunan cagar budaya masih minim.

 

Nasib Cagar Budaya di Tengah Kuatnya Arus Moderenisasi

 

Moderinisasi pada nyatanya membawa dampak positif kepada pengelolaan bangunan cagar budaya di kota Bandung. Dimana akibat modernisasi, bangunan cagar budaya kota Bandung dipugar dan difungsikan kembali. Hal ini tentunya membawa dampak positif utamanya bagi sektor pariwisata.

Diaktivasinya berbagai bangunan cagar budaya di kota Bandung, pada dasarnya bukan hanya digunakan untuk aktivitas berselfie dan berfoto ria saja. Lebih dari itu, eksistensi bangunan-bangunan cagar budaya ini adalah untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai sejarah kota. Dimana selanjutnya ini diharapkan selaras dengan meningkatnya kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap kota Bandung.

Terkait permasalahan dalam pengelolaan bangunan cagar budaya di kota Bandung, terdapat beberapa solusi yang bisa dilakukan. Diantaranya:

  1. Penyelesaian konflik pemanfaatan bangunan cagar budaya melalui pendekatan sosial budaya dan win to win solution sehingga masyarakat tidak merasa dirugikan.
  2. Pelestarian cagar budaya harus sejalan dengan dampak terhadap pemilik heritage itu sendiri. Pemerintah harus melakukan pendataan kembali bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh pribadi dan mengoptimalisasi komunikasi dengan para pemilik bangunan cagar budaya. Tujuannya adalah agar terjadi kesepahaman terhadap pengelolaan cagar budaya. Disamping untuk meminimalisir adanya bangunan cagar budaya yang rusak dan terbengkalai.
  3. Pemanfaatan cagar budaya, harus bertujuan untuk meningkatkan wisata edukasi. Berbagai spot fotogenic ataupun fasilitas penunjang yang ada ditujukan untuk menunjang bangunan cagar budaya sebagai sarana wisata edukasi bukan sebaliknya.
  4. Terdapat layanan informasi yang mendukung sehingga masyarakat bisa mengetahui fakta sejarah yang terdapat dalam bangunan cagar budaya.

 

BACA JUGA: [TIPS] Tetap Fit di Musim Hujan