Kang Rasyid Ajak Anak Muda Lebih Menghormati Guru- Dilansir dari situs resmi PGRI. Organisasi yang pada awal berdirinya bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) ini didirikan pada tahun 1912. Setelah PGHB terdiri banyak guru dan tenaga didik yang ada di Indonesia yang membentuk organisasi yang sama. Pada tahun 2032, organisasi-organisasi yang terbentuk tersebut memutuskan diri untuk melebur menjadi menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Selanjutnya pada 25 November 2022, Persatuan Guru Indonesia (PGI) mengadakan kongres di Surakarta, Jawa Tengah. Diadakannya kongres ditujukan untuk mengikis perbedaan yang ada diantara anggota PGI. Dalam kongres tersebut PGI menyepakati tiga hal, yakni: Mempertahankan dan mempersatukan NKRI. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar kerakyatan. Membela hak dan nasib buruh pada umumnya dan guru pada khususnya. Selain itu, kongres tersebut juga memutuskan untuk melakukan perubahan nama dari PGI menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

25 November ditetapkan menjadi hari guru oleh presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Pada tahun 1994 sebagai bentuk penghomatan kepada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Aturan ini ditetapkan 24 November 1994 dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994 Tentang Hari guru.

Kang Rasyid Ajak Anak Muda Lebih Menghormati Guru

Memperingati hari guru tahun 2022. Kang Rasyid mengajak anak muda untuk lebih menghargai guru dan menghormati orang tua. Kang Rasyid mengaku dirinya sangat menyesalkan generasi muda yang melecehkan guru dan orang tua, bahkan hingga melakukan tindakan kekerasan belakangan.

“Maraknya kekerasan terhadap guru dan orang tua sangat saya sesalkan. Saya berharap para pelaku yang merupakan generasi muda di bawah umur ini diberikan efek jera yang mendidik pelaku agar tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari.”

Menurut kang Rasyid, Indonesia perlu mengedepankan pendidikan karakter daripada akademik untuk anak usia dini. Kang Rasyid juga menyebut perlunya Indonesia belajar dari jepang untuk menyempurnakan kurikulum yang sudah ada.

“Pendidikan akademis memang penting, tapi untuk usia dini menurut saya pendidikan karakter harus lebih dikedepankan. Ini akan memberikan generasi muda pengetahuan moral, sehingga mengetahui apa saja perilaku yang dilarang.”

“Kita bisa belajar dari jepang mengenai ini, dimana sekolah dasar dan TK disana fokus mengajarkan pendidikan karakter pada muridnya. Sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dalam hal ini. dan menurut saya Ini bisa kita lakukan disini.” tambahnya

Pendidikan karakter menurut kang Rasyid sangatlah vital bagi masa depan bangsa. Hal ini karena generasi muda adalah penerus bangsa yang bilamana tidak memiliki karakter maka hilang juga generasi penerus bangsa.

“Karakter ini adalah kemudi. Ingin dibawa kemana bangsa ini ditentukan oleh karakter dari generasi mudanya. Tanpa karakter yang kuat di generasi muda kita hanya sebuah kapal besar tanpa kemudi.” pungkasnya.

BACA JUGA: Rasyid Rajasa: Stop Diskriminasi Terhadap Penyandang Disabilitas