Trend Urban Farming di Tengah Ancaman Krisis Pangan Dunia- Pandemic Covid-19 yang melanda dunia secara global termasuk Indonesia pada akhir tahun 2019 memicu berbagai dampak negatif. Dari mulai tidak stabilnya harga pangan dunia, ketidakstabilan politik global serta pasang surutnya ekonomi global hingga ancaman pada tahun 2023 dimana terjadi resesi secara global.

Keadaan ini juga diperparah oleh ancaman krisis pangan yang terjadi secara global. Sekjen PBB, Antonio Gutteres mewanti-wanti seluruh negara untuk bersiap menghadapi krisis pangan. Kondisi ini tidak terlepas dari dampak pandemic covid-19 yang terjadi. Keadaan ini diperparah setelah meletusnya perang antara Rusia dan Ukraina. Dimana secara langsung mempengaruhi pasokan minyak dan gandum di dunia. Hal ini pada akhirnya memicu kenaikan harga di berbagai harga kebutuhan pangan. Perubahan iklim dunia yang memburuk turut juga menjadi penyebab kenaikan harga pangan di pasar. Pada tahun 2021 harga pangan dunia mengalami lonjakan kenaikan 33%, harga pupuk melonjak lebih dari 50%, diikuti oleh kenaikan bahan bakar yang melonjak lebih dari 70%.

Survei PBB pada akhir tahun 2021 menyebutkan, bahwa jumlah manusia yang akan terdampak oleh krisis pangan adalah 276 Juta Jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan yang sangat pesat dibanding pada tahun 2020. Dimana manusia terdampak krisis pangan berjumlah 135 Juta. Jika dibandingkan lebih jauh, jumlah manusia terdampak krisis pangan pada tahun 2022, 500 persen lebih besar dibanding tahun 2016. Dampak dari krisis pangan sudah bisa kita lihat dan juga rasakan. Di negara-negara Africa bagian tengah, jumlah penderita kelaparan meningkat 13 juta dalam rentang waktu satu tahun. Hal ini menyebabkan ratio kelaparan sangat tinggi dimana terdapat 1 orang yang mengalami kelaparan setiap 48 detik. Di Sri Langka krisis pangan berkepanjangan menyebabkan terjadinya krisis politik.

Trend Urban Farming di Tengah Ancaman Krisis Pangan

Dunia yang semakin tidak menentu, rupanya tidak menyurutkan semangat warga Bandung untuk terus berkreatifitas mengatasi permasalahan secara gotong royong. Salah satunya dapat kita lihat di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah kota Bandung. Dimana warga RW 19 memanfaatkan lahan mereka untuk ditanami berbagai tanaman pangan untuk dikonsumsi sendiri dan juga untuk dijual ke masyarakat umum. konsep urban farming sendiri bukan hal yang baru bagi masyarakat kota Bandung. Namun, urban farming ini kembali populer ketika pandemic Covid-19 melanda pada tahun 2020.

Pemanfaatan urban farming bagi masyarakat perkotaan sangat cocok untuk diterapkan saat ini. Apalagi mengingat kondisi dunia yang tidak menentu. Pengelolaan lahan yang mudah karena tidak memerlukan banyak lahan dan pembiayaannya yang low-cost menjadi alasan mengapa urban farming sangat bisa dilakukan oleh warga. Menurut penulis, urban farming tidak hanya membawa manfaat bagi diri sendiri saja karena bisa menutup kebutuhan pangan. Namun juga mempunyai nilai manfaat juga bagi lingkungan dan juga memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar.

Penulis berpandangan bahwa penerapan urban farming secara optimal akan mendorong swasembada pangan di wilayah dan mendorong aktifnya berbagai aktifitas ekonomi di sekitarnya. Namun, penulis juga berpandangan bahwa aktivitas urban farming ini tidak bisa berjalan optimal jika hanya mengandalkan inisiatif warga saja. Perlu dorongan dari pemerintah di hulu maupun hilirnya agar hal ini bisa terwujud. di hulu pemerintah bisa memberikan bantuan melalui pemberian venture capital dalam pemodalannya. di hilir, pemerintah bisa memberikan pendampingan pelatihan maupun penentuan market dari produk yang ditanam atau pendirian badan usaha bagi warga. Penulis berharap wilayah-wilayah lain terdorong untuk mengoptimalkan urban farming di tengah situasi pangan dunia yang tak menentu.

Baca Juga: Kang Rasyid Rajasa adakan Bazzar Murah: Serentak di 4 titik